Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2019

Nyaris Kebakaran (Ternyata Tas Siaga Bencana itu Penting!)

Menjelang siang di hari Senin (9/7/18) yang cerah...

"Kebakaran... kebakaran!"

Aku tengah berbaring santai ketika riuh teriakan warga mengagetkanku. Kebakaran? 

Sontak aku terbangun dan langsung berlari ke beranda (tanpa perlu berpikir panjang memastikan kebenarannya), saat kulihat asap yang membumbung tinggi sekali. 

Warnanya abu-abu nyaris hitam, tebal bergulung ke angkasa, kontras sekali dengan warna langit siang itu... yang sedang cerah-cerahnya. Aku bergidik ngeri. Kepanikan mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Jaraknya sangat dekat! mungkin sekitar 50 meter dari rumah mertuaku...

Aku langsung kembali ke kamar. Kusambar celana training dan jaket yang tergantung. Kuganti baju secepat kilat-saat itu aku hanya mengenakan daster. Kudengar Ibu mertua berteriak dari bawah, memanggilku untuk segera turun dan meninggalkan rumah.

Pikiranku seketika blank. Aku hanya menyomot tasku, botol air minum, dan Al Qur'an (ponsel langsung kuamankan dalam saku jaket). Tak lupa kucabut steker yang  masih tercolok di stop kontak. Hijab kupakai sekenanya saja dan langsung bergegas turun. Ah iya! kotak cincin (kawin) mas masih dilaci!

Didera rasa panik aku kembali ke kamar dan mengambilnya dalam sekejap, kemudian aku kembali turun dengan tergesa.

Ibu mertuaku sudah menunggu di luar pagar, bersama ketiga cucunya yang menangis ketakutan. Hari itu masih nuansa liburan sekolah. Anak kakak-kakak iparku pun berlibur di rumah neneknya. Tak lama kemudian mereka pun dijemput oleh sepupu yang rumahnya tak jauh dari rumah mertuaku.

"Surat-surat berharga Sarah sama Erry dimana?" tanya ibu.

"Jadi satu di tas ini Bu," jawabku sambil menunjuk tas hitam besar yang tergeletak di sebelah kakinya. Tas yang memuat seluruh dokumen penting milik para penghuni rumah mertuaku, termasuk punyaku dan masse.

Kulihat sekeliling... gang Kota Bambu Utara VI telah dipadati warga yang berhamburan keluar rumah. Susul menyusul motor yang lewat dengan orang-orang yang menggotong-gotong barang elektroniknya.

Aku dan ibu masih terdiam di luar rumah. Menunggu situasi terburuk yang tak kami harapkan... Jangan sampai api-nya sampai kesini... Astaghfirullah... batinku cemas. Simpang siur kudengar si jago merah sudah merembet, menghanguskan 5 rumah.

Kulihat beberapa mulai berjibaku memadamkan api dengan air seadanya. Mereka berbaris memanjang, secara estafet memindahkan ember berisi air

Dengan gemetar aku (menyempat-nyempatkan) mengabadikan momen chaos ini -no pict hoax, ceunah generasi milenial... kukirim pada kerabat, memohon doa agar qodar-Nya baik (agar api tak sampai ke rumah mertuaku). Aku juga mengabarkan masse dan memintanya untuk segera pulang.



Tak berapa kemudian...

Kepanikan kami memuncak ketika tiang listrik mulai terbakar. Astaghfirullah... sungguh menyeramkan melihat kobaran api sebegitu hebatnya😭 Beberapa warga yang rumahnya masih agak jauh namun sudah standby di depan rumah pun berlari menyelamatkan diri... termasuk aku dan ibu. Pasrah... kami berlari sambil bersama-sama menjinjing tas hitam yang ternyata sangat berat!

Adzan Dzuhur berkumandang... beradu dengan teriakan-teriakan kepanikan warga. Tak ada yang menggubris panggilan-Nya karena semua terlalu fokus menyelamatkan diri dan harta-benda sekenanya...

Keluar dari gang kami dijemput oleh adik ayah -mertua- (para keponakan dijemput oleh anaknya tadi). Kami langsung menuju ke rumahnya. Sembari berjalan aku memandangi sekujur penampilanku dari atas sampai ke bawah. Tiba-tiba saja aku merenung, ya Allah bahkan aku tak sempat sekedar berganti baju yang lebih 'bagus'. Memang tak ada gunanya bermewah-mewah... dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih utama ketimbang menyelamatkan diri.

Sesampainya di sana, rupanya listrik telah dipadamkan serentak khusus daerah Kota Bambu Utara, Tanah Abang (ini hanya asumsiku, tapi sepertinya benar).

Tiba-tiba ponselku menyala, sebuah panggilan masuk dari masse. Tapi saat itu kondisi bateraiku sudah melemah.

"Halo, Assalamu'alaikum..." kuangkat teleponnya sembari mencari power bank beserta kabelnya dalam tasku, kemudian memasangnya. powerbank + kabel data/charger memang tak pernah keluar dari tasku.

"Waalaikum'salam, kamu dimana?"

"Aku di rumah Kia, sama ibu, Mita, Dzihni, Zulfan," jawabku sambil melirik para keponakanku yang kini tengah asyik bermain. Tampaknya mereka sudah lupa tentang kepanikan beberapa saat lalu.

"Kondisi aman?"

"Rumah ngga tau. Disini mati listrik juga... katanya udah 7 rumah kena," jawabku.

"Oke... stay safe sayang. Aku otw pulang, Assalamu'alaikum," ujarnya. Aku hanya menjawab salamnya kemudian telepon pun dimatikan.

Tak lama kemudian ayah mertua tiba. Ayah & ibu mertuaku memutuskan kembali ke rumah, untuk bersiaga. Rumah masih aman tetapi rumah yang terbakar sudah delapan. Ya Allah... 

Tiba-tiba aku teringat lokasi-lokasi kebakaran yang dulu kudatangi (sebagai relawan) dan semuanya selalu ludes terbakar merata sampai satu komplek besar... Aku jadi punya bayangan buruk.... sangat buruk.

Tapi.. kemudian aku bersyukur akan suatu hal, dan baru menyadari betapa krusialnya hal tersebut dalam keadaan seperti ini!

Apakah itu? ialah..... Tas Siaga Bencana!

Aku mengetahuinya dari pelatihan yang pernah kuikuti, yakni pelatihan menjadi seorang Urban Survival (which is... salah seorang trainer-nya kini menjadi suamiku🙈 #hahahacurcol).

Setelah menikah, masse memang terus mewanti-wanti agar aku selalu siap sedia Survival Kit, istilahnya. Untuk berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu terjadi situasi darurat. Seperti sekarang ini... tapi aku selalu bodo amat, ribet ah! Ternyata... setelah mengalami situasi darurat itu... memang harus sedia Tas Siaga Bencana sebelum datang bencana! Blank seketika otak😥

Untungnya aku baru saja pulang travelling bersama masse. Jadi tasku masih terisi barang-barang yang diperlukan dalam kondisi darurat. Makanya aku langsung nyomot ini tas! Inilah yang membuatku bersyukur... 

Setidaknya dalam tasku sudah tersedia kebutuhan-kebutuhan untuk bertahan hidup kalau-kalau aku harus mengungsi... (jiwa relawan, bawaannya siap siaga bencana ehe...). Kalau kata masse, yang paling utama itu: air (karena manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa minum. Kalau lapar masih bisa ditahan), daya (powerbank + charger), makanan ringan (lapar memang bisa ditahan tapi kemampuan manusia hidup tanpa makan hanya 7 hari), obat-obatan pribadi/First Aid kit, plastik, senter, dan sedia payung sebelum hujan.

seriously... pada 'praktek'-nya tuh panik... ngga akan kepikiran mau bawa apa selain nyelametin diri sendiri! Coba kalau tadi tasku belum siap dengan barang-barang itu, mungkin saja malah ngga terbawa. Apalagi ternyata ponselku lowbatt, mungkin saja aku ngga sempat bawa powerbank, bagaimana memberi kabar kalau ponselnya mati sementara listrik ngga ada? Kesiapsiagaan diri juga penting... #tsahhh

Satu setengah jam kemudian akhirnya api berhasil dipadamkan. Untungnya armada damkar datang dengan cepat karena lokasinya dekat. Bersyukur rumah mertuaku tidak kena... Alhamdulillah.

Aku pun kembali ke rumah, bersamaan dengan masse yang juga sampai di rumah. Kami berdua kemudian mengecek situasi & kondisi TKP. Meringis aku melihat barisan rumah yang kini tinggal abu... totalnya sembilan rumah terbakar. Damkar datang di saat si jago merah sedang melumat rumah ke sembilan.

Tak lama kemudian, petugas PLN juga datang untuk membereskan tiang listrik yang hangus setengahnya. Listrik masih dipadamkan sampai kurang lebih 2 jam setelah api padam.

Usai mendokumentasi TKP kami pun pulang. Aku langsung sholat Dzuhur (belum sempat kutunaikan saking paniknya... astaghfirullah). Rasanya sholat Dzuhur kali itu adalah salah satu sholat terkhusyuk sepanjang aku hidup😅 Kita sering lupa bahwa kita ini hanya 'makhluk' kecil yang terlalu lemah. Ada Allah yang Maha Besar, namun kesombongan kita seringkali melebihi sang Maha Kuasa itu sendiri...

Sekian dan terima kasih. Tulisan ini dirangkai dengan sebenar-benarnya. Maaf kalau 'pembuktian'nya tidak banyak. Karena ya... bisa dibayangkan bagaimana paniknya saat itu.

Setelah situasi aman, saat berjalan kembali pulang ke rumah. Inilah tentenganku. Lihatlah aku cuma pakai sendal jepit. Nggak kepikiran buat pakai sepatu mahal, yang paling simpel aja... Ohya, aku ambil Al-Quran karena kitab suci kan nggak boleh terbakar ya, jadi harus diselamatkan yang bisa diselamatkan (bukan maksudnya mau sok alim gitu ya)


Everyday Survival Kit (karena aku diajarin masse untuk selalu sedia Survival Kit kapanpun karena bencana -apapun itu- datangnya sewaktu-waktu tanpa ada yang mampu memprediksinya)
1. Uang cash secukupnya, dompet + kartu-kartu penting
2. Powerbank + charger cadangan (khusus untuk dibawa-bawa, selalu standby di dalam tas. Kalau di rumah jangan pakai yang ini)
3. P3K alakadarnya. Biasanya aku bawa tablet Paracetamol, plester luka, dan minyak kayu putih
4. Air minum
5. Permen/makanan ringan (aku malah biasanya sedia gula stik, karena punya hipoglikemi & hipotensi. Buat jaga-jaga takut ngedrop di jalan)
6. Vaseline Repair Jelly. Kata masse sih ini penting, sebagai bahan bakar api (tapi emang selalu ada di dalam travel make up pouch-ku sih) 
7. Korek api -tapi aku sendiri nggak pernah bawa
8. Pisau lipat -ini juga nggak pernah bawa, kuganti gunting kuku aja haha
9. Senter -udah sekalian sama powerbank yang ada senternya wqwq
10. Tisu kering & basah
11. Pembalut -bisa sebagai pengganti perban juga loh
12. Payung/jas hujan

Nah, kalau isi Tas Siaga Bencana bisa dilihat dari gambar di bawah ini.




Sebetulnya, biasanya setiap rumah sudah menyiapkan Tas siaga Bencana loh. Tapi, isinya baru dokumen-dokumen berharga saja. Kebiasaan keluargaku maupun masse sama, menyatukan seluruh surat berharga milik semua penghuni rumah pada satu wadah/tas yang aman terkendali. Termasuk uang & perhiasan juga. Tapi kalau uang, stay di dalam ATM sih haha (seperlunya saja yang disimpan dalam bentuk nyata wqwq) dan perhiasan juga sebaiknya manfaatkan fasilitas Safety Box di bank. Kalau punya brankas, semua barang berharga bisa disimpan dalam brankas. Karena brankas tahan api, jadi Insyaa Allah aman.

Seriously, dalam keadaan panik tuh nggak bisa mikir apapun! Dengan adanya Tas Siaga Bencana, siapapun yang berada di rumah bisa tinggal 'nyomot' aja kalau ada emergency. Kalau nggak sempet untuk ngambil tas-nya, ya tinggalin aja! Paling utama tetap keselamatan nyawa ya. Karenanya, Tas Siaga Bencana sebaiknya disimpan di lokasi yang mudah dijangkau.

Jumat, 21 Desember 2018

Dipersatukan Setelah Saling Mengikhlaskan

Yang masih tak disangka-sangka... ku bisa bertemu dengan dia... lagi... Alhamdulillah... kami dipersatukan bukan lagi dalam keadaan baru bangun tidur. Tapi sudah sama-sama mandi, sudah sama-sama dandan. Sudah sama-sama memantaskan diri menjadi lebih baik... Insyaa Allah

(Sebelumnya... kisah ini ditulis tanpa bermaksud apapun ya. Tanpa bermaksud kami merasa sudah baik, atau lebih baik, kami sama sekali tidak merasa benar. Tetapi kami sungguh bersyukur, betapa Allah izinkan kami untuk memantaskan diri, mematangkan diri untuk akhirnya benar-benar dipersatukan. Berharap semoga melalui kisah ini, ada ibrah yang dapat dipetik. Selamat membaca~)

*****

Aku ngga menaruh harapan besar waktu kamu dan orangtuamu akhirnya datang ke rumah.
Yang aku pikirkan adalah: Ini pasti ujian apakah aku sudah mantap berhijrah belum? apakah aku akan tergoyahkan lagi?

Karena satu tahun sebelumnya kami sudah upayakan segala cara untuk menikah... namun Allah tak izinkan. Kami pun memilih untuk saling mengikhlaskan. Siapa sangka di kemudian hari Allah kembali persatukan?

Hari itu... entah kenapa aku bilang, "Iya aku siap," saat ayah dan ibumu bertanya, apakah aku siap jadi istrimu?

Aku sebenarnya malah ragu...

Sahabat-sahabatku yang bertanya, kenapa kuterima lamarannya? Aku menjawab: Aku nggak tahu.

Aku juga bertanya kepada diri sendiri, kenapa? Aku juga bertanya sama Allah, kenapa? kok dia lagi. Aku sudah memantaskan diri, tapi kenapa dia lagi?

Tapi... semakin aku istikharah, justru semakin dipermudah jalannya. Rencana lamaran yang mestinya sehabis lebaran malah maju satu bulan. Tiba-tiba saja.

Kami cuma punya waktu 2 bulan untuk mempersiapkan (malah tadinya 1 bulan tapi keluarga mas minta diundur karena terlalu mepet, untunglah😅)

Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba... Padahal sebelumnya Ayah sudah ketuk palu tidak mengizinkan aku menikah sama mas.

Masya Allah... memang kalau Allah sudah berkehendak... kita bisa apa? Allah is the greatest planner.

Aku teringat nasehat dari seorang sahabat...
Jodoh itu ada 2 macam. Baik dan Buruk. Allah memberikannya tergantung cara kita dalam mengambilnya. Mau diberikan secara lembut, atau dilemparkan penuh amarah?

Kalau caranya benar, insya Allah berkah pernikahannya. Kalau caranya salah... na'udzu billahi min dzaalik... 

Setahu kita sih... memang diberi sesuai keinginan kita.
Ternyata... Allah bukan memberikan dengan uluran lembut penuh keridhaan... tapi dilempar ke wajah kita penuh amarah dan laknat,
"Nih ambil! Terserah mau jungkir, mau nyungsep, ambil aja!"
Astaghfirullaahal 'adziim

Entahlah... dari pengalaman yang kami lalui, aku bersyukur & berhusnudzan thinking aja (semoga) Allah memang menuntun kami supaya melalui jalan yang benar.... wallahu a'lam bisshawab

Tetapi, yang justru paling kusyukuri adalah... ternyata dia sudah berubah menjadi jauh lebih baik... lebih baik daripada aku yang merasa sudah menjadi baik 'kok bisa-bisanya dipertemukan orang yang dulu lagi'...

Maafkan aku mas... sempat meragukanmu❤ Jodoh memang cerminan diri. Walaupun jodohnya tetap itu-itu juga, kalau kita sudah memantaskan diri tentunya bayangan di dalam cermin juga berubah seiring perbaikan dalam diri kita.

Ibarat kita udah dandan, ya keuleus di cermin bayangannya belum dandan?


akhirnya sejak 9 September 2017 lalu, kami telah sah menjadi sepasang suami istri💘

Kamis, 20 Desember 2018

Kapan berhijab?

"Hijabmu adalah harga matimu - muslimah yang sudah baligh".


Aku sendiri sudah di'paksa' berhijab sejak aku masuk Taman Kanak-Kanak. Ada sebuah momen yang paling kuingat kala itu. Tapi sepertinya aku sudah SD.

Aku menemani mama ke sebuah bank, dan pada saat nomor antrian mama terpanggil, aku yang disuruh mama maju ke teller.

Saat itu, teller yang juga berhijab bertanya padaku, "Pakai jilbab disuruh mama atau kemauan sendiri?"

"Ha?"

"Iya, kamu pakai jilbab karena disuruh mama atau memang kamu pengen pakai?"

dengan sangat jujur -dan malas- aku menjawab: "Disuruh mama".

"Wah berarti mama-nya sayang sama kamu".

Aku tertegun... dan sejak saat itulah aku bertekad, pokoknya aku ngga boleh lepas jilbab!

Tapi... sayangnya, saat aku memasuki masa puber, aku mulai centil. Jilbab jadi semacam gorden saja, buka-tutup. Pakai cuma kalau ke sekolah saja.

Sampai akhirnya, saat aku mau masuk SMA -SMF ding- mama bertanya padaku, "Kamu mau pakai kerudung ngga?"

"Ha? Ya pake lah"

"Kalau pake, pake. Kalau nggak, nggak. Sekarang kamu udah SMA, udah bisa nentuin sendiri. Dulu mama suruh kamu pakai jilbab, karena dosa kamu masih tanggung jawab Mama. Sekarang kamu juga udah baligh, dosamu udah kamu yang nanggung," ujar mama... yang kembali membuatku tertegun + tertohok. Aku sampai merenung, menimbang...

Pada akhirnya aku memutuskan tetap berhijab, dengan kemantapan hati untuk tidak lagi jilbab gorden... Alhamdulillah... jazzakillahu khoiro Ma...

Begitulah... ceritanya 😄

Pertemuan (Denganmu...)

Jujur, dari lubuk hati yang terdalam, aku seperempat hati datang ke momen itu. I’m swear, kalau ngga karena ngga enak sama sahabat sendiri dan kalau aja 'dia' ngelarang aku datang, aku pasti ngga akan kenal sama orang itu, pikirku.

Hari itu seharusnya aku pergi bersama dia yang saat itu berstatus sebagai pacarku.

Tapi, siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari?



Secara singkat akan aku ceritakan kisah pertemuanku dengan masse (walaupun tetap akan jadi panjang😅). Cerita ini tidak dilebih-lebihkan, tapi memang dikurangi bagian-bagian yang terlalu privasi

Bisa dibilang, aku sudah kenal namanya sejak tanggal 16 Mei 2015, karena kami satu grup dalam sebuah kegiatan pelatihan relawan. Dari acara tersebut pula, pertama kalinya Allah pertemukan kami.

Kami hanya saling mengenal nama sampai suatu hari di bulan September*. Aku mendapat tugas liputan sebuah kegiatan mitigasi kebencanaan yang diselenggarakan oleh sebuah Lembaga Kemanusiaan-yang mana aku menjadi relawan di sana (aku memang berperan sebagai media, tepatnya relawan media dalam organisasi kerelawanan yang kuikuti).

Saat itulah aku bertemu dengannya, yang bertugas menjadi co-trainer di lokasi tugas liputanku (aku benar-benar lupa nama lokasinya, pokoknya sebuah SMA di bilangan Kemayoran).

Untuk pertama kalinya kami bertukar suara. Untuk pertama kalinya kami bercakap dan menjadi lebih mengenal satu sama lain, tak sekedar namanya saja. Ya, itu adalah kebetulan pertama Allah buat kami menjadi lebih mengenal satu sama lain. hehe

Momen pertama kali kenal dengan 'baik dan benar' bukan sekedar nama.
Padahal, kenalnya setelah putus sama pacar, eh malah digosipin selingkuh😐

Sampai akhirnya kami bertemu kembali dalam sebuah kebetulan yang kedua: menuju perpustakaan UI.

Kenapa menuju? Karena saat itu aku memang sedang menuju ke perpustakaan UI, bersama seorang teman yang kupinta untuk menemani.

Ternyata, dia juga sedang menuju ke perpustakaan UI. Bertemulah kami dalam perjalanan menuju kesana (di stasiun UI tepatnya). Yang akhirnya membuat temanku memutuskan langsung pulang (karena sebenarnya aku memaksanya -temanku itu- untuk menemaniku😀).

Pada momen kebetulan kedua ini, tentunya kami menjadi lebih akrab. Entah kenapa aku merasa menemukan kecocokan dalam berdiskusi dengannya.

Dalam dua momen ketidak-sengajaan itulah, akhirnya kami benar-benar menjadi dekat. Tapi bukan dalam artian cinta ya. Kami berdua menjadi teman berdiskusi. Aku bisa menyebutnya partner kritis-ku. Sebab aku akhirnya menemukan manusia yang dapat kutumpahkan pemikiran-pemikiran kritisku.

Kadang-kadang kami berdiskusi atau berdebat via chat. Tidak sering. Kadang-kadang yang sangat jarang. Kalau ada topik yang sedang hangat saja. Itupun lebih seringnya aku mengabaikan chat-nya. haha

Mas bilang, hal inilah yang bikin mas penasaran sama aku. Kok bisa ada cewek sejutek dan se-flat itu. Harga diriku terluka! katanya... karena seringnya hanya ku read wkwkwk (padahal gebetan-gebetan dia selama ini cepat bertekuk lutut. Idiiih sorry lha yaw emang kita cewek apaan!)

Sampai di suatu hari yang masih kuingat tanggalnya... 4 Oktober 2015. Hari itu, untuk pertama kalinya kami bertemu tanpa suatu ketidaksengajaan. Kami bertemu dengan sengaja. Dia mengajakku melihat terbenamnya matahari di pantai Mutiara.

Sepulangnya, kami mampir di sebuah kedai kopi (lupa namanya). Di sinilah... dia melamarku.

Aku bengong-sebengong-bengong-nya saat mendengarnya meminta ku menjadi... apa?! istrinya???

Melihat kebingungan di raut wajahku, dia mengulangi pernyataannya. Bahwa dia yakin dan mantap, telah menemukan sosok penyempurna agamanya. Meski baru 1 bulan kami mengenal satu sama lain.

"Selesaikan saja dulu skripsimu, baru kemudian kita bicarakan lagi. Kalau memang serius, datangilah orangtua saya," ujarku sekedarnya.

Percaya ngga, kalau di kedai ini saya dilamar? 

Ternyata.... Dia benar-benar langsung datang menemui orangtuaku! dan setelah nikah aku jadi tahu kalau manusia ini memang sifatnya nekat!

Akhirnya... kami berkomitmen untuk menikah di tahun 2016. Namun sayangnya... jalannya tak mulus... yah aku sadar... baik aku dan dia memang telah bergeser niatnya. Kami mulanya sama-sama sedang berhijrah kala itu, dan kami sadar kami telah menyimpang...

Meskipun kami tidak pernah benar-benar pacaran (karena kalau dia memintaku jadi pacarnya pasti kutolak!), kami mengakui... kedekatan kami terlihat seperti orang pacaran. Sampai-sampai dicibir: Ta'aruf rasa pacaran. haha

Karenanya... kami bersyukur, Allah pisahkan kami. Tahun 2017 seharusnya menjadi tahun move-on bagi kita berdua yang gagal menikah.

di ujung tanduk usaha kami, dia bertanya,
"Kamu pilih siapa? Aku atau orangtuamu?"
Tentu saja aku ingin menjawab kamu! Tapi aku ingat sebuah nasehat, bahwa dalam pilihan sulit apapun itu pilihlah Allah. Maka, aku pun menjawab...
"Maaf, aku pilih orangtuaku".
"Baiklah... mari kita hentikan komitmen ini sampai di sini," ujarnya...
Betapa sedihnya aku saat itu... aku merasa kecewa dan marah pada orangtuaku. Alasan mereka hanya karena mas tidak mapan... tapi bagaimanapun juga aku adalah anak. Ridho Allah masih bergantung pada ridho orangtua...

Gagal menikah dengannya, orangtuaku lantas mengupayakan perjodohan-perjodohan untukku... yang memang sudah mereka rencanakan rupanya. Tapi entah kenapa tidak ada yang sreg di hatiku, meski aku sudah melakukan istikharah.

Sampai akhirnya kukatakan kepada mereka, aku belum mau menikah. Aku baru sadar, sepertinya aku sedang diuji kemantapan dalam berhijrah... Aku juga jadi sadar kalau sebenernya aku belum siap nikah. cuma pengen aja...

Dan yah... aku sedang menikmati masa-masa move on saat tiba-tiba... dia diperbolehkan datang untuk melamarku bersama kedua orang tuanya.

Akhirnya, di bulan September tahun 2017 kami menikah. Alhamdulillah, insyaa Allah proses yang dilalui benar. Bukan lagi taa'ruf rasa pacaran. hehe

Begitulah kisahku. Maaf kalau terkesan drama, aslinya jauh lebih drama😂 (kalah deh sinetron wkwkwk) tapi begitulah adanya~ (lanjutannya silahkan baca di sini)

*mungkin inilah yang dinamakan... pacar itu... menghalangi jodoh yang sebenarnya. Tapi mau gimanapun dihalangi, kalau Allah sudah tentukan jodoh kita siapa.. kita bisa apa? Tinggal cara kita ngambilnya aja... mau diulurkan dengan mesra oleh-Nya, atau dilempar dengan penuh amarah dan laknat-Nya?


ujian yang Allah berikan membuat kami kini benar-benar saling menghargai.
Hmm... mungkinkah Allah sengaja belum kasih kita anak karena nyuruh kita bersenang-senang dulu?
(ujian mau nikahnya udah dikasih berat banget soalnya😂)



#2019dilaranghamil Karena Keguguran Berulang (Blighted Ovum)

Tahun 2018 ini tahun yang berat bagi Indonesia...Bencana datang silih berganti bertubi-tubi...Begitupula dengan tahun 2018 kami... cukup berat...
Khususnya untukku, karena harus mengalami keguguran berulang kali.. "kalau orang-orang menanti testpack bergaris dua, aku malah udah bosan rasanya..." haha batinku sarkas.

Tahun depan, jangan ada yang tanya "udah isi belum?" yah... hehe

Soalnya tahun ini, Sarah udah isi 4x sebenernya, qodarullah semuanya keguguran.....

Dokternya sampai memberi ultimatum ke Sarah untuk jangan hamil tahun depan, karena harus terapi penguatan rahim + menyelidiki adakah something apa gitu... Karena bisa membahayakan Sarah juga kalau terus-terusan keguguran... (ke-optimis-an harus sejajar juga dengan rasionalitas😔).

Sebenarnya aku ganti dokter, karena tiga kali ngalamin keguguran dan dokter yang sebelumnya masih bilang, "Nggak papa, cuma kelainan kromosom aja kok. Perbaiki gizi dan pola hidup ya". Padahal Aku udah curiga... tapi dokternya ngga ngasih rekomendasi untuk cek lab.

Keguguran pertama dan kedua aku masih nurut... tapi setelah keguguran ketiga dan ia hanya berkata, "Masih terlalu kecil usianya, kalau ada masalah biasanya justru terdeteksi setelah trimester kedua". Aku memutuskan untuk mencari dokter lain.

Akhirnya aku terpaksa dengan dokter laki-laki supaya lebih rasional dan menggunakan logika😅 barulah kudapatkan rekomendasi untuk cek lab.

"Ibu subur banget kok... insya Allah peluangnya besar, tapi harus periksa lab yah kemungkinan ada sesuatu..." ujar sang dokter heran. Hasil USG menunjukkan semuanya -seharusnya- baik baik saja. Sel telur yang besar-besar dan cepat matang. Rahim yang bersih. Pun siklus haid si ibu selalu teratur (yang menandakan bahwa hormonnya stabil). Si ibu gampang bener kebobolan, pasti dokternya berpikir seperti itu😆

Ada beberapa kemungkinan menurut obgyn-ku... bisa jadi sedang terinfeksi virus TORCH... atau bisa jadi tubuhku memiliki sindrom ACA... bisa juga memang ada kelainan genetik karena buruknya kualitas sperma/sel telur (sehingga janin tak berkembang)... dan kemungkinan-kemungkinan lainnya... Wallahu a'lam...

Padahal... aku sangat menjaga makanan, menjaga pola hidup. Pun aku ngga pernah piara hewan... di keluargaku juga ngga ada yang mengidap antiphospolipid syndrom. Qodarullah... Kalau Allah berkehendak kita bisa apa?

Tahun 2018 ini siklusnya:
Bulan Januari pertama kalinya tespek positif -- dan pertama kalinya keguguran. Sekitar usia 10 minggu abortus spontan, kemudian bedrest 1 bulan pemulihan pasca keguguran.

Januari 2018, literally sangat sangat excited mengetahui aku hamil saat itu.
Ini sekitar usia 8-9 minggu, aku norak melihat perutku membuncit padat.
Kukira segalanya akan berjalan mulus...

Kala itu aku belum sempat check up. Yang kuingat, aku dan masse berencana check up hari Sabtu... tapi... Shubuhnya aku mengalami perdarahan. Diagnosa awal kandunganku lemah, jadi aku diminta bedrest total jika hamil lagi. (Foto di atas kuambil di dalam toilet kantor. Ya, saat itu aku masih bekerja. Jadi asumsiku aku kelelahan karena bekerja).




🍀🍀🍀

Akhirnya aku memutuskan untuk off dari dunia kerja. Mungkin teguran Allah karena sebenarnya dari awal masse melarang aku kerja... tapi aku yang maksa.

Setelah 1x siklus menstruasi... eh bulan April langsung positif lagi. Sayangnya... di usia 9 menuju 10 minggu lagi-lagi abortus spontan. (Padahal aku sudah bedrest total...).

Mei 2018, 3 hari sebelum perdarahan (lagi) aku check up tapi hasilnya begini.
Dokter mengatakan sepertinya blighted ovum (kehamilan kosong) dan menyuruhku mengambil tindakan kuret.
Aku tidak mau dan meminta evaluasi sampai 2 minggu. Kalau memang setelah 2 minggu janinnya masih belum berkembang... terpaksa aku kuret. Lagipula, tanpa kuret pun kalau memang 'janin tak berkembang' tubuh sudah punya mekanisme nya sendiri untuk meluruhkan secara alami (berhubung aku basic-nya medis jadi faham juga hal seperti ini). Akhirnya memang luruh sendiri...☺

Masih belum nyerah, setelah bedrest lagi 1 bulan pemulihan pasca keguguran dan setelah 1x siklus menstruasi, bulan depannya (bulan Juli) lagi-lagi ga haid dan positif lagi! haha...

Tapi kali ketiga ini aku lebih pasrah, ngga mau check up sebelum usia 12 minggu. Berharap kali itu akan baik-baik saja...


Juli 2018, aku bahagia sekaligus pasrah mendapati aku hamil lagi. Rasa trauma masih membayangi...
Akhirnya kubeli buku ini, karya Bu Yessie @bidankita (bidan paling hitzzz di dunia Instagram).
FYI, bukunya bagus banget! recommended!!
Dari buku ini aku belajar tekhnik gentle-birth supaya bisa melahirkan normal dengan rasa nyaman, aman, damai, sentosa dan minim trauma.
Sayangnya malah kupraktekkan untuk keguguran berikutnya...

Ternyata tidak... di usia 9 minggu lagi-lagi terjadi... abortus spontan lagi.

Kali ketiga... belum sempat USG... tadinya mau USG kalau sudah 12 minggu/masuk Trimester kedua
(karena aku mencoba positive thinking akan baik-baik saja)

Harus bedrest lagi 1 bulan pemulihan pasca keguguran. Qodarullah juga harus LDM sama suami, jadi ngga bakal kebobolan lagi... haha



🍀🍀🍀


Setelah 3x siklus menstruasi, mencoba ikhtiar kembali... Akhir november ketahuan hamil lagi... Udah excited banget dan bener-bener dikawal ketat.

November 2018, omg hamil lagi! Ini usianya baru 5 minggu. Janin-nya belum ada, baru kantung janin saja.
Aku sungguh sangat berharap yang kali keempat ini qodar-Nya tiba...

Tapi... ternyata Allah masih belum berkehendak...😢 baru saja 17 Desember 2018 lalu aku mengalami keguguran lagi di usia yang sama, 9 minggu. Sampai tulisan ini diunggah aku masih mengalami perdarahan... dan harus bedrest lagi satu bulan ke depan...

Jangan tanya rasanya yah... Persis kek lahiran... kontraksi hebat selama 6 jam hingga 'melahirkan'... Bedanya yang keluar bukan bayi tapi gumpalan daging seperti hati ayam...

Yah setidaknya udah gladi resik rasanya lahiran lah, jadi ngga bakal kaget lagi nanti kalau lahiran beneran haha. (bahkan tekhnik gentle-birth yang aku pelajari malah buat gentle-abortus :") karena aku ngga mau dikuret huhu Alhamdulillah selalu luruh dengan bersih. Cuma yang terakhir ini masih belum ketahuan, karena masih perdarahan...

Jadi... tahun depan dipastikan Sarah belum boleh hamil. Yah... semoga tahun depan terapinya lancar... berharap juga ada keajaiban dari qodar-Nya... Aamiin YRA

Please ngga usah kasih saran atau kritik apapun... aku publish ini supaya ngga terus ditanya-tanya :"" cukup doakan yang terbaik... dan semoga jangan ada yang mengalami seperti diriku...


Hasil USG terakhir, 10 Desember 2018. H-2 memasuki usia 8 minggu

Aku selalu ngalamin flek coklat begitu memasuki usia kehamilan 8 minggu. Padahal bedrest total, makanan dijaga, pikirannya juga dibikin happy terus. Vitamin jalan terus... bahkan pada kehamilan keempat dosis penguat nya dinaikkan jadi yang paling tinggi (aku pakai cygest coba...). Termasuk minum tablet pengencer darah 2x sehari...
Aku ngga tahu kenapa? Itu sebabnya baru mau kuselidiki. Mohon doanya~☺
momen tergreget 2018: pertama kalinya dilarikan ke UGD karena perdarahan.
Kemudian kapok karena takut diinfus 😂 #fobiajarumsuntikgariskeras
(((makanya keguguran berikut-berikutnya ngga pernah mau dibawa ke RS)))
(Ke RS nya pas udah selesai perdarahan😅)