Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2018

Nikah itu Enak Nggak Sih?

Bila yang datang kepadamu kebaikan adalah rezeki dari Allah, bila yang datang padamu keburukan berarti engkau salah memilih.
Karena Allah itu selalu ngasih yang terbaik. Tetapi manusia yang sukanya ngeyel merasa paling tahu mana yang terbaik.
Janganlah Allah dijadikan cadangan atau dijadikan alibi atas isi hatimu. Khususkan niatnya untuk Allah semata. Keluarkan niat-niat lain selain karena Allah.

#sebuahnasehatyangkudengar

Karena ada yang tanya sama kita... "Tolong jawab dengan jujur ya... nikah tuh enak nggak sih? benarkah hanya euforia di awal tapi setelahnya hanyalah kebahagiaan yang fiksi?"

Seriously... niat adalah kunci kelancaran pernikahan. Hanya kita yang tahu niat apa yang mendasari kita menikah. Apakah benar-benar tulus untuk ibadah atau yang lainnya (bukan sekedar lipservice saja). Menikah memang ibadah, tapi berat kalau niatnya salah.

Kaya dulu kalau masih kecil, disuruh sholat. Jujur sih kalau aku niatnya bukan untuk Allah. Tapi karena disuruh itu jadi takut😅 dan memang rasanya berat, karena ngga niat, ngga ikhlas, ngga tulus, ngasal juga jadinya asal dikerjain aja. Yah namanya juga masih kecil...

Tapi kalau dibiasakan, tanpa sadar 'niat' itu jadi ter-mindset dalam pola pikir kita. Ya pokoknya ngelaksanain kewajiban aja. Akhirnya malah jadi mempengaruhi segala aspek kehidupan... bahkan hingga ke jenjang pernikahan.

Nah... pada akhirnya, niat yang tidak lurus itulah yang menjadikan kehidupan pernikahan penuh tekanan.

Jadi... kalau memang mau menikah, persiapkan niat dengan baik dan benar. Niatkan yang lurus, hanya untuk ibadah. Hilangkan segala niat selain karena Allah semata. termasuk karena cinta... (kenapa? yah nanti kalau udah nikah juga faham... abis yang udah-udah kalau dibilangin ngga ada yang percaya)

Sedih sih karena asumsi orang-orang sekarang, menikah itu hanyalah... 'kebahagiaan yang fiksi'. Bahagia tapi penuh tekanan. Banyak yang jadi takut menikah karena hal ini... termasuk yang melontarkan pertanyaan ini.

Hidup tentunya penuh dengan tekanan. Tapi... hidup takkan setertekan itu kalau kita bisa menyelaraskan ekspektasi dan realita. 

Semakin tinggi ekspektasi kita, semakin tinggi pula tingkat kekecewaan yang akan dirasa. Karena yang kita pikirkan hanya bahagia, jadi kitanya capek sendiri...

Loh iya dong, kita harus bahagia. Masa hidup ngga boleh bahagia?

Ya jelas hidup harus bahagia dong... kan cuma sekali. Tapi yang difokuskan bukan cuma cari kebahagiaan saja. Carilah keberkahan, agar dalam keadaan apapun rasanya selalu bahagia. Nah...

Karena kalau berkah pasti bahagia. Kalau bahagia tekanan apapun rasanya enjoy banget dijalanin. Bahkan rasanya... kaya belum ada ujian aja.

Aku sendiri mencermati pernikahanku dalam setahun ini, entah kenapa ya... kok rasanya fine-fine aja. Alhamdulillah semuanya berjalan baik kecuali... anak😊 (inilah ujianku dan mas hehe).

Jadi, kalau ada yang bilang setelah menikah malah nggak enak dan banyak ngeluhnya, coba istighfar dan luruskan niatnya... mungkin niatnya sudah berbelok... bukan untuk-Nya... Miris juga melihat yang baru hitungan bulan udah cerai😔 na'udzu billahi mindzalik...



hidup ini isinya ya hanya dua: hal-hal yang kita sukai dan yang tidak.
Pastinya, dua-duanya ada. Dua-duanya selalu ada. Kadang seiring, ada kala bergantian, dan berselang-seling. Dalam pernikahan pun demikian.
Ada saat, ada waktu, ada kala, ada kondisi, ada hal, ada keadaan, semuanya dalam konteks disukai dan tidak.
Tetapi dalam hal apapun itu, disukai atau dibenci, menyenangkan maupun memprihatinkan, melahirkan tawa ataupun tangis, membuat gelak maupun isak, whatever lah~ pokoknya senantiasa berharap barokah menyertai.
Semoga Allah selalu himpun kami berdua dalam kebaikan, Aamiin YRA❤️
- dikutip dari buku "Bahagianya Merayakan Cinta" karya Salim A. Fillah - 




Kamis, 20 Desember 2018

Kapan berhijab?

"Hijabmu adalah harga matimu - muslimah yang sudah baligh".


Aku sendiri sudah di'paksa' berhijab sejak aku masuk Taman Kanak-Kanak. Ada sebuah momen yang paling kuingat kala itu. Tapi sepertinya aku sudah SD.

Aku menemani mama ke sebuah bank, dan pada saat nomor antrian mama terpanggil, aku yang disuruh mama maju ke teller.

Saat itu, teller yang juga berhijab bertanya padaku, "Pakai jilbab disuruh mama atau kemauan sendiri?"

"Ha?"

"Iya, kamu pakai jilbab karena disuruh mama atau memang kamu pengen pakai?"

dengan sangat jujur -dan malas- aku menjawab: "Disuruh mama".

"Wah berarti mama-nya sayang sama kamu".

Aku tertegun... dan sejak saat itulah aku bertekad, pokoknya aku ngga boleh lepas jilbab!

Tapi... sayangnya, saat aku memasuki masa puber, aku mulai centil. Jilbab jadi semacam gorden saja, buka-tutup. Pakai cuma kalau ke sekolah saja.

Sampai akhirnya, saat aku mau masuk SMA -SMF ding- mama bertanya padaku, "Kamu mau pakai kerudung ngga?"

"Ha? Ya pake lah"

"Kalau pake, pake. Kalau nggak, nggak. Sekarang kamu udah SMA, udah bisa nentuin sendiri. Dulu mama suruh kamu pakai jilbab, karena dosa kamu masih tanggung jawab Mama. Sekarang kamu juga udah baligh, dosamu udah kamu yang nanggung," ujar mama... yang kembali membuatku tertegun + tertohok. Aku sampai merenung, menimbang...

Pada akhirnya aku memutuskan tetap berhijab, dengan kemantapan hati untuk tidak lagi jilbab gorden... Alhamdulillah... jazzakillahu khoiro Ma...

Begitulah... ceritanya 😄

Memaafkan dan Melupakan

"Gue kan udah minta maaf! Masa dia ngga mau maafin!"
"Kenapa lo bisa bilang kalau dia ngga maafin?"
"Karena dia menjauh"
Hei, mbak, kamu salah judge kayaknya nih. Memaafkan memang mudah. Tapi... justru yang susah itu melupakan. Mungkin... bukan dia belum memaafkanmu. Tetapi dia masih belum bisa melupakan rasa sakit hati nya... maklum lah manusia. Hatinya lemah, bukan Dia yang Maha Pengampun.

Kalau memang kamu sudah ada itikad baik untuk meminta maaf, ya bagus. Tapi kamu ngga bisa memaksa dia. Yang bisa kamu lakukan hanyalah berdoa kepada Sang Maha pembolak-balik hati... supaya dia ikhlas melupakan sakit hatinya dan kembali seperti sediakala.

Kamu juga ngga bisa menyalahkan dia. Kamu lah yang mestinya intropeksi diri. Kalau kamu bisa menyadari kesalahan kamu, seharusnya kamu mengerti bahwa dia perlu waktu untuk benar-benar melupakan... rasa sakit hatinya.

Karena itulah... berhati-hati dalam bersikap, karena bisa saja... yang buat kamu sih sepele ternyata bikin hatinya jadi luar biasa tersinggung. Dalamnya hati manusia siapa yang tahu?

~~~

Jadi... gue ngga sengaja mendengar percakapan dua orang mbak-mbak... daaaaan.... gue rasanya pengen banget nimbrung mbak-mbak yang lagi rumpi itu... mana ngomongnya kenceng bgt

Tapi ngga enak... haha. Jadi yah gue akhirnya memilih untuk nge-share ini aja. Sebagai self-reminder dan buat temen-temen juga untuk hati-hati dalam bersikap, berkata, sampai berkomentar (termasuk dalam dunia maya).

Juga jangan egois... pikirkan juga perasaan orang lain #cmiiw

Kebelet Nikah VS Hijrah

Kamu ingin menemukan cinta sejati yang mencintaimu begitu dalam -karena Allah- ?Hey, tunggu dulu. Cintamu untuk Allah sudah semana?
Jangan menipu Allah...
-sarasa-

Permasalahan muslimah zaman now, ingin dicintai... dan tolak ukur rasa cinta itu adalah keseriusan untuk dinikahi...
Kuakui pernah juga terdoktrin kaya gitu...

Dulu, kalau dapat undangan, mikirnya, "Wah hebat ya cowoknya serius. Langsung nikahin".
Tapi kalau dipikir-pikir... bukan itu point-nya.

Terlaksananya pernikahan itu... haruslah dengan restu dari Sang Khalik. Perempuan maupun laki-laki akan dilihat kesiapannya oleh Allah sebelum di acc untuk menyempurnakan agamanya.

Menengok ke dalam diri yang saat itu pernah 'kepengen banget' nikah, Astaghfirullah... Pantes aja nggak Allah acc. Lha.. wong masih jauh banget dari kata 'pantas' buat mengemban tugas menjadi seorang istri... huft...

Jadi setelah sadar... setiap dapat undangan pasti selalu mikir, "Wah keren ya dia. Udah bisa Allah kasih kepercayaan menjadi istri".

Alhamdulillah... satu tahun kemudian (setelah paham dengan konsep tersebut) Allah akhirnya izinkan jodohku menjemput😊

--

Awalnya... gue berusaha memperbaiki diri memang 'supaya' Allah acc untuk dijemput jodoh. Alhamdulillah nya, Allah ngga acc itu niat yang salah kaprah hehe

Alhamdulillah, Allah tuntun perbaiki niat gue supaya lebih berfokus mempersiapkan bekal... kalaulah mati sewaktu-waktu... Siapa yang tahu jodoh atau maut duluan yang menjemput?

Dan yang tak disangka-sangka... Disaat gue udah seikhlas-ikhlasnya, udah ngga lagi peduli sama cinta-cintaan, enjoy untuk dateng kondangan tanpa partner, cuma mau fokus ngeraih cita-cita eh tiba-tiba, tiba-tiba.....

cinta datang kepadaku🎤(malah nyanyi wkwk)  #maapreceh #jayusbgtwks

Ya... tiba-tiba jodohku datang menjemput... meski masih orang yang sama... yang sudah kuikhlaskan... masya Allah...

Aku pernah berandai-andai (dan berharap)... akankah... aku dapat seperti kisah orang-orang yang dipertemukan kembali setelah saling mengikhlaskan? Ternyata Allah kabulkan :")

Tapi... tentunya situasi setiap orang tidaklah sama. Jangan dijadikan acuan yaa... belum tentu bisa dipersatukan kembali dengan 'mantan'. Point-nya adalah... jangan sampai salah niat.

Pernah kudengar #sebuahnasehat :

Seorang remaja usia nikah bertanya pada ibunya, "Gimana caranya mendapatkan calon isteri yang shalihah ?".


Sang ibu menjawab, "Lebih baik kamu konsentrasi menjadikan dirimu sebagai calon suami yang shaleh. Kalau dirimu sudah shaleh, in syaa Allah, Allah akan memberimu calon istri yang shalihah"

Jangan sampai... kita mengharuskan orang lain berakhlak baik tapi diri kita sendiri belum baik. Jangan sampai... niat hijrah kita hanya untuk menikah. Apalagi itu... bahaya... syirik itu namanya.

Jodoh itu ibarat refleksi diri di cermin. Kalau kita ngaca pas baru bangun tidur, ngga mungkinlah pantulannya udah dandan cantik. Gitu aja sih ukhti-ukhti shalihah~

Kalau kita sabar atas kehendak-Nya, rencana-Nya tentu jauh lebih indah. Aamiin...

P.S. Kiat-kiat dalam memantaskan diri:
Stop follow akun-akun yang bikin galau bin baper kebelet nikah. Pilih akun-akun yang lebih ngajarin untuk memantaskan diri (lebih bagus kalau baca-baca buku untuk perbaikan diri).

#bukuharianSarah
#basedonmytruestory

secuplik kisah pertemuan kembali setelah saling mengikhlaskan klik di sini.

Kapan Punya Anak?

Setiap manusia pasti punya impian masing-masing. Haruskah pukul rata pencapaian tiap-tiap individu?

Ketimbang mempermasalahkan kenapa Allah belum juga ngasih anak... Aku justru merasa malu... mungkin ini kafarah dari Allah... hukuman atas kesalahan-kesalahanku yang lalu...

Aku malu kalau maksa Allah untuk kasih anak, sementara Allah udah kasih nikmat sebegitu banyaknya... di saat dosa-dosaku belum sepenuhnya ter-tobati...

Cuma bisa berdoa dan berdoa agar Allah mengampunkan dosaku... dan berharap Allah mendatangkan rezeki anak sebagai kebaikan...

Memang kadang rasanya iri. Kalau melihatnya pakai kacamata dunia... kok ya... rasanya hidup ini ngga adil banget? kenapa harus aku? kenapa cuma aku yang seperti ini? Yang lain lancar-lancar aja tuh, kok bisa-bisanya aku berulang kali keguguran?

Tapi kalau memakai kacamata hikmah... malah sangat bersyukur. Berarti Allah segitu perhatiannya sama aku (harus husnudzan kan). Ketika yang lain dikasih mudah sama Allah tinggal dikasih-kasih aja, giliran aku banyaaak bgt ujiannya😊

Alhamdulillah... Allah beri aku waktu untuk berproses, belajar, dan bertumbuh menjadi calon ibu seperti halnya dulu ketika aku ditatar Allah untuk siap menjadi calon istri. Karena banyak orangtua yang ngga bisa belajar... keburu punya anak. Keburu repot ngurus anak.


"Ngga usah buru-buru, nikmatin dulu lah waktu kalian berdua. Mamah dulu ngga ada tuh rasa-rasa pengantin baru karena langsung repot ngurus anak," ujar ibu mertuaku.
"Nikmatilah dulu masa-masa indah sama masmu, sambil nabung. Mama sama ayah dulu boro-boro bisa nikmatin jadi pengantin baru. Langsung pusing mikirin biaya buat anak!" tutur mamaku.

Aku yakin... semua yang telah digariskan dalam taqdir Allah... pasti akan lebih dari sekedar baik.

Apa yang ditakdirkan oleh-Nya pasti sempurna, tidak ada yang meleset, tidak ada yang tertukar...

Allah menyayangiku... meski terkadang cara-Nya sulit kumengerti...

Pokoknya... apa yang sedang dijalani sekarang itu udah yang paling baik banget versi Allah's plan. Tinggal mempersungguh ikhtiar & doa agar semakin Allah beri yang terbaik ketika saatnya tiba. Aamiin YRA


Seburuk-buruknya kenikmatan adalah kenikmatan yang melalaikan kita...
Jangan sampai kufur nikmat hanya karena satu hal yang belum Allah beri.

Betapa bersyukurnya masih bisa bercengkrama dengan orang-orang tersayang.
Buat apa memusingkan apa-apa yang memang belum Allah kehendaki?

Nikmat-Nya yang paling berharga saat ini adalah kamu...

#postweddingphotoshoot 25.12.2018