Kamis, 20 Desember 2018

Tidak ada Proses Membaik yang mudah

Istiqamah itu... tidak datang dengan sendirinya.
Kita yang harus mengejar keistiqamah-an.
Dan Allah Maha Tahu... apakah kita bohong-bohongan, atau betul-betul mendekat?
Dan istiqamah adalah upaya mengikhlaskan.
Mengikhlaskan dalam arti seluas-luasnya, banyak hal yang harus serius ditinggalkan agar Allah mau berlari mendekap kita. -sarasa-


Proses membaik itu... ibarat proses penyembuhan sakit.

Kalau mau lekas sembuh, maka ikutilah aturan-aturannya. Minum obat yang tepat, istirahat yang cukup, makan makanan yang sehat bergizi, dan jauhi pantangannya.

Tapi kalau masih ngeyel, yang dipantang masih dihajar, ya kapan sembuhnya?

Saat sakit, kita harus tega kan sama diri kita sendiri demi sembuh?

Nah... Saat kamu mau memperbaiki dirimu juga harus tega. Harus banyak yang dipantang supaya gak gampang lagi maksiat.

Saat kamu dalam proses membaik, kamu bakal nyadar bahwa... betapa sudah banyak dosa yang dengan mudahnya kamu lakukan. Bagaimana bisa sadar? Karena selama proses membaikmu, Allah beri kafarah-kafarah untuk melebur dosa-dosamu.

Makanya kenapa dalam proses membaik -hijrah- jalan yang ditempuh pastilah tidak mudah.

Jangan tanya jalan hijrahku, penuh liku dan berbatu.
Tapi saat itu yang kuingat hanya satu, jangan adukan pada sesiapa selain Allah.

#secuplikkisahhijrah

Pengen Punya Anak

Setiap kali ngeliat postingan teman tentang anaknya... rasanya...(((ngiri))) tapi batin selalu ngingetin, "Sabar Sar, sabar, jangan ngiri, Allah lagi siapin hadiah terbaik buat kamu".

Dan kemudian yang kulakukan adalah bershalawat + ngedoain yang baik-baik tentunya untuk si anak tersebut. Karena aku berharap malaikat juga mengaminkan doa tersebut, untuk anakku nanti...

Aku percaya Allah memang lagi men-tatar aku supaya sebenar-benarnya siap menjadi seorang ibu (yang ngga main-main tugasnya kan!!). Kenapa aku bisa seyakin itu? karena aku sudah mengalami dan membuktikan sendiri bagaimana Allah menguji aku supaya aku benar-benar siap nikah, dulu.

Dulu, aku juga ngerasa... iri dengan teman-temanku yang kok kayanya gampang aja sih nikah? ketemu orang yang klik, pendekatan, komitmen, ketemu orangtua, tunangan/lamaran, nikah. Tapi kenapa aku mah banyak drama banget... sampai gagal nikah... (walaupun pada akhirnya jodohnya tetep dia dia juga...hehe).

Aku belajar dari pengalaman untuk mengikhlaskan... untuk memantaskan diri terlebih dulu. Banyak belajar sampai aku lulus di mata Allah. Barulah Allah kabulkan keinginanku.

Tahu nggak apa tolak ukur kesiapan kita di mata Allah?
Saat hati kita udah benar-benar ikhlas atas keinginan kita. 
Saat yang kita cari hanyalah ridho Allah semata.
Saat ikhtiar kita hanya untuk meningkatkan ketaqwaan kita di sisi-Nya. -sarasa-

Doa tentunya masih, tapi udah ngga ngebet-ngebet lagi, udah pasrah, cuma husnudzan sama qodar-Nya. Nah... di saat itulah Allah nyatakan kita lulus. Kita siap mendapatkan apa yang kita inginkan.

Karenanya, kenapa banyak hal didapat setelah kita justru udah pasrah (pasrah ya bukan nyerah).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan... "Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji kekuatan dirimu. Tetapi untuk menguji seberapa besar kesungguhanmu dalam meminta pertolongan Allah".

Yah... walaupun tahun ini belum boleh hamil dulu... tetap semangat! Jadi... please stop tanya, kapan punya anak?

Jantung dan Bisul

Jadilah selayaknya jantung, yang selalu berdetak tiada henti
(karena kalau berhenti kita mati...)
Tak pernah menonjolkan diri, tetapi seluruh tubuh tahu dialah organ yang paling diakui.

Jangan menjadi seperti halnya bisul.
Selalu berusaha menonjol, inginnya terlihat, inginnya diakui, tapi tidak pada tempatnya.
 Hanya menimbulkan sakit.
 Orang-orang yang seperti itu, pasti hidupnya terasa sakit...
-sarasa-

#sebuahnasehatyangkudengar

#bukuhariansarah

Terlanjur Salah

Sifat syaiton itu... ketika terlanjur salah, dia justru semakin menjadi-jadi kesalahannya.
Sadar dia salah, tapi tidak berubah.
Sadar dia salah, tapi malah berbangga.
Sadar dia salah, tapi tidak merasa bersalah.

"Sudah terlanjur salah, ya salah aja sekalian"
"Sudah terlanjur buruk, ya buruk aja sekalian"

Kita sebagai manusia jangan ngikutin syaiton ya. Syaiton begitu karena sudah dilaknat Allah, apakah kita mau dilaknat oleh-Nya?

#sebuahnasehatyangkudengar

Memaafkan dan Melupakan

"Gue kan udah minta maaf! Masa dia ngga mau maafin!"
"Kenapa lo bisa bilang kalau dia ngga maafin?"
"Karena dia menjauh"
Hei, mbak, kamu salah judge kayaknya nih. Memaafkan memang mudah. Tapi... justru yang susah itu melupakan. Mungkin... bukan dia belum memaafkanmu. Tetapi dia masih belum bisa melupakan rasa sakit hati nya... maklum lah manusia. Hatinya lemah, bukan Dia yang Maha Pengampun.

Kalau memang kamu sudah ada itikad baik untuk meminta maaf, ya bagus. Tapi kamu ngga bisa memaksa dia. Yang bisa kamu lakukan hanyalah berdoa kepada Sang Maha pembolak-balik hati... supaya dia ikhlas melupakan sakit hatinya dan kembali seperti sediakala.

Kamu juga ngga bisa menyalahkan dia. Kamu lah yang mestinya intropeksi diri. Kalau kamu bisa menyadari kesalahan kamu, seharusnya kamu mengerti bahwa dia perlu waktu untuk benar-benar melupakan... rasa sakit hatinya.

Karena itulah... berhati-hati dalam bersikap, karena bisa saja... yang buat kamu sih sepele ternyata bikin hatinya jadi luar biasa tersinggung. Dalamnya hati manusia siapa yang tahu?

~~~

Jadi... gue ngga sengaja mendengar percakapan dua orang mbak-mbak... daaaaan.... gue rasanya pengen banget nimbrung mbak-mbak yang lagi rumpi itu... mana ngomongnya kenceng bgt

Tapi ngga enak... haha. Jadi yah gue akhirnya memilih untuk nge-share ini aja. Sebagai self-reminder dan buat temen-temen juga untuk hati-hati dalam bersikap, berkata, sampai berkomentar (termasuk dalam dunia maya).

Juga jangan egois... pikirkan juga perasaan orang lain #cmiiw

Secangkir Matcha Latte

Aku menyesap latte ku perlahan, menikmati aroma green tea yang begitu semerbak, dan menenangkan. Hanya ini... caraku meredakan rinduku. Hangatnya matcha latte ini memaksa kenangan itu menyeruak. Biarlah...

Siapa yang tahan dengan rasa rindu? Orang bilang hati seluas dan sedalam samudra. Tapi, apakah rindu itu wujudnya lebih luas dan dalam, bahkan hati terlalu sempit untuk membingkainya?
Cinta masih bisa di tahan tapi tidak untuk rindu walau setitik, ah apasih kamu sar, sok puitis! Rutukku dalam hati.  
                                         
Kulihat di sebrang mejaku, seorang pria yang kuperkirakan berusia 30an beranjak dari kursinya. Sejenak bercanda dengan partner minum kopinya saat itu. Seorang perempuan yang mungkin usianya sebaya, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai hingga sikunya.

Aku tak bisa lihat wajahnya karena ia duduk membelakangiku. Kulihatnya mendongak kemudian berdiri, lalu mereka berpelukan. Sang pria mengecup pucuk rambutnya, kemudian bergegas pergi. Sementara sang wanita kembali duduk dan meminum kopinya.
                                                     
Sungguh... pemandangan yang salah di saat seperti ini...huft. Aku menunduk, meratapi permukaan meja. Menghela napas. Aku juga... Aku juga ingin memeluknya...

Bukan, bukan pria tadi. Tapi dia... dia yang senyumnya tak hilang-hilang dari ingatan...

Aku sangat ingin memeluknya. Sekarang. Tapi aku hanya bisa memeluknya lewat doa... mendoakan keberkahan untuknya. Agar tiap langkahnya diridhoi dan bernilai pahala dari-Nya... Aamiin...

P.S.
teruntuk suamiku... istrimu sedang dilanda rindu kronis... kapankah long distance marriage ini berakhir... huhuhu

Kebelet Nikah VS Hijrah

Kamu ingin menemukan cinta sejati yang mencintaimu begitu dalam -karena Allah- ?Hey, tunggu dulu. Cintamu untuk Allah sudah semana?
Jangan menipu Allah...
-sarasa-

Permasalahan muslimah zaman now, ingin dicintai... dan tolak ukur rasa cinta itu adalah keseriusan untuk dinikahi...
Kuakui pernah juga terdoktrin kaya gitu...

Dulu, kalau dapat undangan, mikirnya, "Wah hebat ya cowoknya serius. Langsung nikahin".
Tapi kalau dipikir-pikir... bukan itu point-nya.

Terlaksananya pernikahan itu... haruslah dengan restu dari Sang Khalik. Perempuan maupun laki-laki akan dilihat kesiapannya oleh Allah sebelum di acc untuk menyempurnakan agamanya.

Menengok ke dalam diri yang saat itu pernah 'kepengen banget' nikah, Astaghfirullah... Pantes aja nggak Allah acc. Lha.. wong masih jauh banget dari kata 'pantas' buat mengemban tugas menjadi seorang istri... huft...

Jadi setelah sadar... setiap dapat undangan pasti selalu mikir, "Wah keren ya dia. Udah bisa Allah kasih kepercayaan menjadi istri".

Alhamdulillah... satu tahun kemudian (setelah paham dengan konsep tersebut) Allah akhirnya izinkan jodohku menjemput😊

--

Awalnya... gue berusaha memperbaiki diri memang 'supaya' Allah acc untuk dijemput jodoh. Alhamdulillah nya, Allah ngga acc itu niat yang salah kaprah hehe

Alhamdulillah, Allah tuntun perbaiki niat gue supaya lebih berfokus mempersiapkan bekal... kalaulah mati sewaktu-waktu... Siapa yang tahu jodoh atau maut duluan yang menjemput?

Dan yang tak disangka-sangka... Disaat gue udah seikhlas-ikhlasnya, udah ngga lagi peduli sama cinta-cintaan, enjoy untuk dateng kondangan tanpa partner, cuma mau fokus ngeraih cita-cita eh tiba-tiba, tiba-tiba.....

cinta datang kepadaku🎤(malah nyanyi wkwk)  #maapreceh #jayusbgtwks

Ya... tiba-tiba jodohku datang menjemput... meski masih orang yang sama... yang sudah kuikhlaskan... masya Allah...

Aku pernah berandai-andai (dan berharap)... akankah... aku dapat seperti kisah orang-orang yang dipertemukan kembali setelah saling mengikhlaskan? Ternyata Allah kabulkan :")

Tapi... tentunya situasi setiap orang tidaklah sama. Jangan dijadikan acuan yaa... belum tentu bisa dipersatukan kembali dengan 'mantan'. Point-nya adalah... jangan sampai salah niat.

Pernah kudengar #sebuahnasehat :

Seorang remaja usia nikah bertanya pada ibunya, "Gimana caranya mendapatkan calon isteri yang shalihah ?".


Sang ibu menjawab, "Lebih baik kamu konsentrasi menjadikan dirimu sebagai calon suami yang shaleh. Kalau dirimu sudah shaleh, in syaa Allah, Allah akan memberimu calon istri yang shalihah"

Jangan sampai... kita mengharuskan orang lain berakhlak baik tapi diri kita sendiri belum baik. Jangan sampai... niat hijrah kita hanya untuk menikah. Apalagi itu... bahaya... syirik itu namanya.

Jodoh itu ibarat refleksi diri di cermin. Kalau kita ngaca pas baru bangun tidur, ngga mungkinlah pantulannya udah dandan cantik. Gitu aja sih ukhti-ukhti shalihah~

Kalau kita sabar atas kehendak-Nya, rencana-Nya tentu jauh lebih indah. Aamiin...

P.S. Kiat-kiat dalam memantaskan diri:
Stop follow akun-akun yang bikin galau bin baper kebelet nikah. Pilih akun-akun yang lebih ngajarin untuk memantaskan diri (lebih bagus kalau baca-baca buku untuk perbaikan diri).

#bukuharianSarah
#basedonmytruestory

secuplik kisah pertemuan kembali setelah saling mengikhlaskan klik di sini.